Cacar Air

Cacar Air

Cacar air adalah infeksi yang di sebabkan oleh virus Varicella-zoster. Sebagian besar kasusnya terjadi pada anak-anak di bawah usia 12 tahun. Penyakit ini juga dapat terjadi pada orang dewasa yang belum pernah terinfeksi. Ketika di alami oleh orang dewasa, umumnya gejala dari cacar air akan lebih parah.

Penyakit dapat dengan mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Jika sudah terkena, kekebalan tubuh akan mengenalinya, sehingga kamu tidak akan terinfeksi penyakit untuk kedua kalinya. Waspadai, penanganan di butuhkan ketika gejala justru memburuk seiring dengan berjalannya waktu.

Gejala Cacar Air

Cacar air adalah penyakit yang di tandai dengan ruam gatal berisi air. Sebelum gejala lain berkembang, ruam biasanya menetap di tubuh pengidap selama 7-21 hari. Setelah 48 terinfeksi, pengidap sudah bisa menularkan kepada orang lain, bahkan sebelum gejala berupa ruam kulit muncul.

Di fase awal sebelum munculnya ruam, gejala dari penyakit tersebut di tandai dengan:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Kehilangan selera makan.
  • Nyeri otot.
  • Rasa lelah berlebihan.
  • Mual.

Setelah 1-2 hari mengalami gejala tersebut, sejumlah ruam mulai muncul dan berkembang. Ruam tersebut mengalami 3 fase perkembangan, seperti:

  • Muncul benjolan merah atau merah muda di seluruh tubuh.
  • Benjolan tersebut kemudian berubah menjadi lepuhan berisi cairan.
  • Ketika mulai sembuh, benjolan menjadi pecah, kering, dan berkerak.

Dalam satu waktu, benjolan ruam di sekujur tubuh tidak selalu berada di fase perkembangan yang sama. Benjolan baru bisa saja terus muncul selama virus masih menginfeksi tubuh. Pengidap masih bisa menularkan pada orang lain hingga lepuhan di tubuhnya kering dan mengelupas dalam waktu 7-14 hari.

Penyebab Cacar Air

Penyebab utama cacar air adalah infeksi virus Varicella zoster. Virus tersebut dapat menyebar melalui kontak langsung dengan ruam. Selain itu, penularan virus Varicella zoster juga dapat menyebar ketika seseorang dengan batuk atau bersin dan terhirup oleh seseorang melalui droplet di udara.

Jika seseorang tertular, maka infeksi akan di mulai dengan munculnya ruam. Kemudian, ruam tersebut berubah menjadi bintil merah berisi cairan yang terasa gatal, dan mengering dalam jangka waktu tertentu. Bintil tersebut kemudian menjadi koreng dan terkelupas dalam waktu 7 hingga 14 hari.

Faktor Risiko Cacar Air

Risiko seseorang terinfeksi virus varicella-zoster penyebab cacar air akan menjadi lebih tinggi, jika orang tersebut belum pernah mengidapnya atau belum mendapatkan vaksin cacar air. Di samping itu, penyakit ini dapat di tularkan langsung dari ibu ke bayinya. Sebab, kekebalan alami baru akan muncul 3 bulan setelah bayi di lahirkan. Maka dari itu, penting untuk melakukan vaksinasi atau imunisasi cacar air sedari anak-anak.

Selain beberapa faktor risiko tersebut, terdapat beberapa faktor risiko lain dari cacar air yang juga perlu di waspadai, seperti:

  • Melakukan kontak erat dengan orang yang terinfeksi virus varicella-zoster selama lebih dari 15 menit.
  • Menyentuh ruam orang yang terinfeksi cacar air atau herpes zoster.
  • Menyentuh sesuatu yang baru saja di gunakan oleh orang yang terinfeksi seperti pakaian atau tempat tidur.
  • Orang dewasa yang tinggal bersama anak-anak berusia di bawah 12 tahun.
  • Menghabiskan waktu di sekolah atau fasilitas penitipan anak.
  • Sistem kekebalan yang rendah akibat penyakit atau obat-obatan.

Diagnosis Cacar Air

Dokter umumnya akan mendiagnosis cacar air berdasarkan karakteristik ruam yang muncul. Jika terdapat keraguan tentang diagnosis, maka dokter akan menjalani tes laboratorium, seperti tes darah atau kultur virus. Berikut adalah penjabaran dari kedua tes tersebut, yaitu:

1. Tes darah

Tes darah di lakukan untuk mendeteksi apakah seseorang memiliki infeksi cacar air aktif atau menguji kekebalan tubuh seseorang terhadap penyakit tersebut. Pemeriksaan ini akan di lakukan melalui pengambilan sejumlah sampel darah  yang akan di periksa di laboratorium.

2. Tes kultur virus 

Kultur virus merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan cara mengambil sampel cairan dari ruam di tubuh pasien. Sampel tersebut kemudian akan diteliti di laboratorium untuk mendeteksi keberadaan virus Varicella.

Pengobatan Cacar Air

Hingga kini belum di temukan langkah pengobatan yang efektif untuk mengatasi cacar air. Sejauh ini pengobatan di lakukan untuk meredakan gejala yang di alami oleh pengidap. Dokter biasanya meresepkan obat penurun panas untuk meredakan demam atau obat-obatan antihistamine untuk meredakan rasa gatal pada kulit.

Selain itu, berikut ini beberapa langkah perawatan rumahan yang dapat menunjang proses pengobatan rumahan:

  • Konsumsi banyak cairan. Jika anak kurang suka air putih, ibu bisa memberikan jus atau es krim untuk mencegah dehidrasi.
  • Pakaikan celana panjang, kaos tangan panjang, dan kaos kaki untuk mencegah anak menggaruk kulit.
  • Memotong kuku anak agar tidak melukai lepuhan ruam.
  • Menggunakan krim atau gel pendingin dari apotek.
  • Mandi dengan air dingin untuk meredakan gatal.
  • Menggunakan pakaian longgar dengan bahan yang lembut.

Komplikasi Cacar Air 

Meski jarang terjadi, tapi dengan gejala yang serius juga dapat menimbulkan komplikasi pada beberapa kelompok rentan. Berikut adalah kelompok rentan tersebut, antara lain:

  • Bayi yang baru lahir.
  • Remaja.
  • Orang dewasa.
  • Wanita hamil.
  • Orang dengan tubuh yang memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk melawan kuman dan penyakit (sistem kekebalan yang melemah) karena penyakit atau obat-obatan, seperti pengidap HIV.
  • Pasien yang telah menjalani transplantasi.
  • Seseorang yang sedang menjalani kemoterapi, mengonsumsi obat imunosupresif, atau penggunaan steroid jangka panjang.

Sementara itu, berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat menyerang pengidap cacar air, yaitu:

  • Infeksi bakteri pada kulit dan jaringan lunak pada anak-anak, termasuk infeksi streptokokus Grup A.
  • Infeksi paru-paru (pneumonia).
  • Infeksi atau pembengkakan otak (ensefalitis, ataksia serebelar).
  • Masalah perdarahan (komplikasi hemoragik).
  • Infeksi aliran darah (sepsis).
  • Dehidrasi.
  • Beberapa orang dengan komplikasi serius bisa menjadi sangat sakit sehingga mereka perlu di rawat di rumah sakit. Pada kasus yang sudah benar-benar parah atau pengidapnya belum pernah di vaksin, cacar air juga dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan Cacar Air

Cacar air dapat di cegah dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi menjadi salah satu langkah preventif yang paling efektif. Jika terkena, gejala yang di alami tidak akan parah dan mencegah munculnya komplikasi yang bisa saja membahayakan kesehatan anak.

Penularan penyakit tersebut terjadi sangat mudah dan cepat. Jika anak adalah pengidap, isolasi di rumah selama 1 minggu ke depan, terutama 1–2 hari sebelum kemunculan ruam. Jika anak berinteraksi dengan pengidap, periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang di butuhkan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah memeriksakan kondisi ke dokter bila dirimu atau Si Kecil mengalami sejumlah gejala darurat seperti berikut ini:

  • Demam yang berlangsung lebih dari 4 hari.
  • Gatal semakin parah dan tidak bereaksi terhadap pengobatan.
  • Anak sulit di bangunkan dari tidur atau terbangun dalam keadaan bingung.
  • Timbul belang kemerahan pada kulit, atau area kulit yang melunak.
  • Timbul ruam merah berbintik seperti scarlet fever.
  • Anak mengeluhkan kaku leher.
  • Anak kesulitan berjalan.
  • Anak kesulitan bernapas.
  • Terjadi perdarahan pada bintil cacar.
  • Mual dan muntah yang terjadi lebih dari tiga kali.
  • Anak terlihat pucat kesakitan dan kelelahan.
  • Anak tidak kunjung merasa baikan.

Selain itu, pastikan untuk menghubungi dokter dalam 24 jam untuk mencari pertolongan medis, apabila:

  • Bintil tampak melunak dan mengeluarkan nanah.
  • Bintil membesar.
  • Salah satu kelenjar getah bening membesar dan melunak.
  • Anak terkena cacar air, tetapi tidak pernah menerima vaksin atau mengidap sebelumnya.

Penyakit cacar air sebaiknya tidak di sepelekan, karena dapat membahayakan kesehatan secara keseluruhan. Terutama bagi orang dewasa dan anak-anak yang belum di vaksin, hingga mereka yang memiliki kekebalan tubuh rendah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top